Kamis, 04 Desember 2014

CINTA RASA ICECREAM (cerpen by Arimbi Yoannira)



CINTA RASA ICE CREAM
by: Arimbi Yoannira
“Datanglah kemari,aku menunggumu disini”

Samar-samar kuintip layar handphone yang semalaman kutimbun dalam bantal,kurogoh dalam penat,dalam kantuk yang masih menyisakan mimpi dan kecewa semalam. Kubaca pesanmu sekali lagi. Pagi buta di awal Januari.
Ini hari ulang tahunku haruskah aku menemuimu?

“Selamat ulang tahun,selamat ulang tahun”

Kutatap silau lilin-lilin yg berjajar rapih diatas blackforest, aku hanya menyunggingkan seulas senyum terharu pun tidak. Tapi permohonan yang kubuat sesaat sebelum kutiup habis lilin-lilin kecil benar benar kulakukan dengan penuh hikmat.

“Aku sudah siapkan kado ini untukmu maaf aku tak membungkusnya aku ingin kau langsung mengenakannya”

Dadaku kian sesak penuh tanya dan rasa kecewa. Bukan tentang apa yang kau beri tapi tentang hati yang tak pasti.

“Trimakasih, aku pakai sekarang ya”

“Aku tau kau akan senang menerimanya Sa”

Kau mencium dahiku aku tak bergeming hanya air mataku tiba-tiba menetes melewati pipi dan jatuh di kerah bajuku. Sekali lagi aku tak terharu. Ini awal bulan Januari hujan akan terus mengguyur kota kecil kita yang dingin dan sunyi. Sepasang sarung tangan coklat muda kado pertama darimu di sweet seventenku mungkin akan lebih berguna dibanding setangkai mawar putih atau ucapan maaf sisa-sisa tahun baru.

Setahun yang lalu

“Sa, aku memberikan Zahra gaun putih cantik ditambah bucket mawar merah besar yang aku taruh dibangkunya,di keranjang sepedanya,di depan pintu rumahnya dan kamu tau Sa aku memesan cake besar bertuliskan I love u Zahra first n last for me aku menyiapkannya dari sore hari hingga aku memberikannya tepat di tengah malam ,gimana romantis kan Sa?”

“Al, kamu tidak menghabiskan uang bulananmu kan?”

“Itu masalahnya Sa aku menemuimu untuk membantuku , lagipula aku akan senang jika melihat Zahra senang aku tak peduli seberapa banyak yang kukeluarkan asalkan itu membuat Zahraku senang.Pinjami aku seratus ribu saja”

Dengan wajah memelas, idung yang mancung mata bundar Alif teman sejak aku sekolah dasar menggenggam tanganku dan memohon. Aku selalu merasa kasihan dengannya aku tau Zahra tidak mencintai Alif sebagaimana Alif mencintai Zahra tapi apa dia akan percaya padaku sedang cinta disana telah membabi buta,membuat penghuni hatinya meratu disana di istana yang polos dan diam kini terkoyak cinta masa remaja.

“Sa,Zahra Sa ,alergi dia kambuh aku harus membawanya ke klinik “

“Berapa?”

“Kau punya uang berapa?”

“Aku tidak punya uang Al, kau tau sekarang musim hujan kedai Ice cream kami sepi pengunjung dan aku ini hanya seorang siswa bukan pengusaha,tabunganku setiap bulannya dipinjami olehmu demi Zahra,Zahra,Zahra sadarlah saat kau sakit apa dia mengurusimu? Tidak kan? Lantas siapa? Aku.”

“Tisa”

Hening. Aku diam Alif diam dia meraih bangku di dekatku. Diluar hujan deras kau berlari menuju kedai Ice Cream yang kujaga tanpa memikirkan dirimu sendiri sepatu kuyup bercecer pada lantai keramik pakaian yang lusuh rambut basah klimis penuh peluh yang bercampur tetesan hujan. Aku tak mengerti seberapa kuatnya cinta hingga kau lupa.Ya, karna aku tak pernah merasa mencintai dan dicintai. Hanya kasihan padamu Alif.

“Aku tidak punya uang tapi ambilah Ice Cream ini jika kau dapat menjualnya sebelum senja kau akan dapat rupiah“

“Sa,Kau memang selalu baik padaku”

“Sudahlah, keringkan dulu rambutmu”

Kulihat dari luar jendela Alif begitu bersemangat menawarkan Ice Cream ditengah gerimis dia bersusah payah mendapatkan rupiah untuk Zahra. Ah, apakah ada sosok pria seperti Alif menjadi kekasihku.

Awal desember

“Sa, Zahra putus denganku dia mengaku jadian dengan mahasiswa tekhnik sebulan yang lalu”

“Apa dia bahagia?”

“Sepertinya iya. Aku sadar cinta tak selamanya dapat digenggam dan aku sadar bahwa kau yang selalu menggenggamku”

“Maksudmu?”

“Sa, sadarlah kau ini mencintaiku untuk apa selama ini kau membantuku?

“Aku tak mengerti. Mungkin kau benar Al tapi tidak denganmu”

“Akupun Sa, orang pertama yang selalu kucari dan ku butuhkan hanya kamu”

“Tidak”

“Percayalah”

“Tapi kau tidak pernah berjualan Ice Cream demi mengembalikan uangku”

“Aku akan melakukannya. Jika sebelum senja habis kau harus jadi pacarku”

Dua jam saja Alif menjual habis. Aku tertegun aku tak mengerti apa yang dikatakannya soal cinta tapi aku menghargai usahanya. Seperti Ice cream rasa baru ingin kau coba meski tau Ice Cream tetaplah dingin. Hari itu dimana cinta Alif pada Zahra dibekukan dan akulah yang akan melelehkan kepingan hatinya yang beku. Entah apa yang terlintas saat itu aku hanya ingin menyelamatkan hati Alif yang rapuh. Aku menyesal membiarkannya berlarut mesra dengan Zahra . Mengapa bukan aku saja yang sejak dulu dipersatukan dengan Alif . Aku tidak berniat memanfaatkannya aku hanya ingin mengenal apa itu cinta dan aku ingin membantunya. Kenalkan aku pada cinta seperti cinta yang kau berikan pada Zahra. Tidak, aku ingin merasakanya lebih dari itu.

Akhir Desember

Tengah malam ini tidak seperti taun baru sebelumnya hujan mengguyur deras kota kecil kita. Sweat seveten. Aku menunggu kehadiranmu disini di muka halamanku membawa setangkai mawar putih atau 2 kembang api pengantar pergantian tahun dengan senyum hangat yang kubayangkan dan kau menyanyikan lagu selamat ulang tahun di pintu rumahku .

Alif jelaskan padaku apakah cinta itu berbeda rasa seperti Ice Cream yang kau jual untuku demi hutangmu atau untuk Zahra yang kau jual dengan tulus. Apakah cinta untuk Zahra rasa vanila putih manis lembut dan cinta untuk Tisa rasa coklat dengan potongan kacang . Apakah jika aku tidak meminta setangkai mawar putih apakah kau tidak akan memberikannya untukku? Seperti kau memberikan bucket mawar merah besar pada Zahra .

“Alif ini jam satu malam”
Kulirik layar handphone lalu menimbunnya di bawah bantal .Alif tengah malamku berakhir kantuk mulai menjalar dari ujung kaki hingga ubun-ubun tubuhku hendak tertidur pulas. Aku tak menunggu ucapan selamat tahun baru ataupun selamat ulang tahun darimu bahkan aku berhenti mengharapkan setangkai mawar putih. Setangkai saja dibalut cinta rasa ice cream vanila.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar